Home » » MAKALAH : PERAN BIMBINGAN ORANG TUA DAN GURU TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA

MAKALAH : PERAN BIMBINGAN ORANG TUA DAN GURU TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Di Indonesia masalah pendidikan ditangani oleh dua Departemen, yakni Departemen Agama dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pembangunan Nasional pada hakekatnya adalah pembangunan bangsa Indonesia, berarti mempersiapkan bangsa Indonesia untuk menjadi warga Negara yang mampu bertanggung jawab dan mampu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Demikian juga pendidikan harus mempunyai arah dan tujuan yang jelas untuk mencapai cita-cita di Negara kita Republik Indonesia. Usaha pemerintah dalam pendidikan adalah meningkatkan kualitas pendidikan. Pada hakekatnya peningkatan kualitas pendidikan tidak terlepas dari peranan guru dan orang tua.
Sebagaimana dinyatakan oleh Muhaimin, Abd. Ghofir, Nur Ali Rahman (1996 : 63) bahwa :
Tugas Guru yang paling utama adalah : mengajar dan mendidik. Sebagai pengajar ia merupakan medium atau parantara aktif antara murid dan ilmu pengetahuan, sedang sebagai pendidik ia merupakan medium aktif antara murid, haluan/filsafat Negara dan kehidupan masyarakat dengan segala seginya, dan dalam mengembangkan pribadi murid serta mendekatkan mereka dengan pengaruh-pengaruh dari luar yang baik dan menjauhkan mereka dari pengaruh-pengaruh yang buruk


Tetapi di dalam kenyatannya, anak-anak didalam mengikuti kegiatan belajar mengajar banyak mengalami kesulitan-kesulitan, sehingga menghambat perolehan belajar yang diharapkan. Hal ini sering dijumpai oleh para orang tua dan para guru. Anak-anak yang demikian jelas sulit memperoleh prestasi yang baik, karena tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
Walaupun kesulitan yang dihadapi seorang anak dengan anak yang lain berbeda-beda baik masalahnya ataupun besar kesilnya, hal ini banyak disebabkan karena latar belakang kehidupannya, kondisi yang melingkupinya serta kurangnya bimbingan dan motivasi yang diberikan oleh kedua orang tuanya
Setiap orang tua dan guru menghendaki anak didiknya mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya. Untuk itu orang tua dan guru mengharapkan kerajinan, ketekunan serta kesungguhan hati anak didik, sehingga mampu dan menguasai pemecahan masalah yang disandangnya dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi menurut kenyataan sering dijumpai masalah-masalah yang tidak diharapkan oleh orang tua dan guru. Seringkali menghadapi anak didik yang mengalami kesulitan belajar yang dikarenakan latar belakang kehidupan dan problem yang disebabkan kurangnya motivasi belajar dari orang tua dan guru.
Keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam dan dari luar diri anak itu sendiri, misalnya intelegensi dan bakat, minat dan sebagainya. Dan faktor-faktor dari dalam dan dari luar diri anak itu sendiri, misalnya latar belakang sosial ekonomi, fasilitas belajar dan sebagainya dan yang lainnya adalah bimbingan orang tua dan guru.
Dalam hal belajar, bimbingan orang tua dan guru memang sangat berperan terhadap motivasi belajar guna mendorong anak di dalam kegiatan-kegiatan belajarnya, demi tercapainya tujuan yang diinginkan.
Oleh karena itu apabila ada anak didik yang motivasi belajarnya kurang, akan timbul beberapa ciri tingkah laku yang merupakan manivestasi gejala kesulitan belajar.
Beberapa ciri tingkah laku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar antara lain :
1.      Hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata
2.      Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan
3.      Menimbulkan sikap yang kurang wajar
Misalnya : tidak sungguh-sungguh dalam menerima pelajaran, jemu, acuh tak acuh dan sebagainya
4.      Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar.
Misalnya : tersinggung, pemarah, pemurung, melamun dan sebagainya. (Abud Ahmadi,  1979 : 161)
Sebenarnya dari gejala yang nampak tersebut di atas merupakan dari sebab atau latar belakang tertentu yang menjadi problem anak. Dan diantaranya problem-problem yang ada, termasuk yang disebabkan karena kurangnya motivasi belajar.
Anak didik yang motivasi belajarnya kurang akan menunjukkan gejala seperti : jemu dalam menerima pelajaran, tidak sungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas dan sebagainya. Sehingga untuk melakukan kegiatan belajar dengan baik, selain membutuhkan kecakapan, keterampilan dan sebagainya, juga membutuhkan motivasi belajar dari individu yang bersangkutan.
Guru merupakan lingkungan yang sangat berperan juga terhadap tumbuh dan berkembangnya motivasi belajar. Oleh sebab itu guru dalam memberikan bimbingan haruslah bersifat demokratis. Sebab memang guru sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak didik.


1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat penulis kemukakan rumusan masalah yaitu nagaimana peran bimbingan orang tua dan guru terhadap motivasi belajar siswa?

1.3  Tujuan
Berpijak dari rumusan masalah yang telah ditetapkan dalam tulisan ini adalah menguraikan peran bimbingan orang tua dan guru terhadap motivasi belajar siswa. Dengan peran bimbingan orang tua dan guru diharapkan dapat membentuk motivasi belajar yang baik dan akan membantu suksesnya dalam kegiatan belajar yang diinginkan.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1   Pengertian dan Fungsi Bimbingan
2.1.1. Pengertian Bimbingan
Banyak para ahli di bidang pendidikan memberikan batasan atau pengertian tentang bimbingan dengan dasar pandangan masing-masing. Menurut Rochman Notowidjoyo dalam bukunya Bimbingan dan Penyuluhan telah menguraikan sebagai berikut :
Usaha-usaha untuk memberikan penerangan dan pengetahuan, memberikan latihan-latihan serta memberikan contoh (tauladan), memberikan bantuan-bantuan dan peraturan-peraturan agar yang dibimbing, selain lebih berpengetahuan dan trampil, rajin, bersemangat, juga bertingkah laku yang baik dan lain-lain. (Rochman Notowidjoyo, 1978 : 17).

Bimbingan yang bersifat umum itu bisa diberikan oleh orang tua kepada anaknya, Kepala Sekolah kepada warga desa, Kepala Sekolah kepada staf dan guru-guru, guru kepada siswanya, pimpinan kantor kepada pegawainya dan sebagainya dan bisa terjadi di sekolah dan di luar sekolah.
Dan ditegaskan pula oleh Drs. Kartini Kartono dalam bukunya "Bimbingan dan Dasar-dasar Pelaksanaannya" yang berbunyi berikut :
Bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu, agar ia memahami kemampuan-kemampuan dan kelemahan-kelemahan serta mempergunakan pengetahuan tersebut secara efektif di dalam menghadapi masalah-masalah hidupnya secara bertanggung jawab. (Kartini Kartono, 1985 : 103).
Sedangkan bimbingan dalam arti umum menurut Rochman Notowidjoyo adalah suatu usaha pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran masyarakat. (Rochman Notowidjoyo, 1979 : 194).
Berdasarkan ketiga batasan bimbingan secara umum di atas, bahwa bimbingan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan untuk mengembangkan semua aspek yang ada pada manusia sehingga dapat berkembang secara maksimal.
Namun ditinjau dari segi orang tua, bahwa bimbingan merupakan keharusan bagi manusia. Sebab kelahiran anak yang sebenarnya bukan suatu hal yang kebetulan, tetapi suatu yang telah diprogramkan. Jadi disini bahwa orang tua mempunyai tanggung jawab moral atas kelangsungan hidup para putra putrinya. Dengan adanya tanggung jawab inilah menyebabkan bahwa anak perlu mendapatkan bimbingan agar kemudian dapat mandiri.
Ditinjau dari segi guru, haruslah guru melibatkan diri dalam bimbingan, sebab setiap guru pasti ingin berhasil terhadap masing-masing muridnya. Tetapi sering kali guru merasa gagal, sebab meskipun guru telah berusaha sepenuhnya namun kenyataannya semua murid tidak belajar dengan sungguh-sungguh.
Sehingga hal tersebut di atas dikatakan bahwa bimbingan adalah aktifitas membantu murid dalam menentukan tujuan, menyelesaikan persoalan-persoalan dan menentukan pilihan-pilihan secara bijaksana.
Namun kalau ditinjau dari segi anak itu sendiri, bahwa bimbingan dirasakan perlu, sebab anak merasa butuh bimbingan pada waktu ia dilahirkan belum bisa berbuat apa-apa dan sampai segala sesuatuya perlu adanya bimbingan, baik dari orang tua, guru dan masyarakat.
Banyak para ahli pendidikan mengutarakan pendapatnya tentang bimbingan dalam arti khusus seperti halnya sebagai berikut :
Menurut Kartini Kartono dalam bukunya "Bimbingan dan Dasar-dasar Pelaksanaannya" berbunyi :
Maka dalam perkembangannya secara optimal perlu dibantu dalam hal:
·        Memahami dirinya
·        Memahami lingkungan
·        Pengarahan diri
·        Penyesuaian diri dan sebagainya
2.1.2. Fungsi Bimbingan
Untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, maka bimbingan mempunyai beberapa fungsi, yaitu :
a.       Pemahaman
Salah satu sebab mengapa anak mengalami kesulitan atau terlambat perkembangannya, kurang pemahaman tentang dirinya. Bukan hanya anak, orang dewasapun tidak cukup pemahaman tentang dirinya. Orang dewasa sering kali, menghadapi berbagai kesulitan dan hambatan karena kurang pemahaman diri. Sebelum anak mempunyai pemahaman dirinya terlebih dahulu, guru dan orang tua hendaknya mempunyai pemahaman tentang anak.
Guru dan orang tua hendaknya perlu mempunyai pemahaman yang memadai tentang kemampuan umum atau kecerdasan bakat, sifat dan sebagainya kepada anak didiknya.
b.      Pencegahan
Anak dalamhal perkembangan mempunyai dorongan yang mengarahkan untuk bergerak/berbuat. Dorongan-dorongan itu bersumber dari faktor yang ada dalam diri anak dan faktor yang ada di luar diri anak :
Faktor yang ada dalam diri anak antara lain :
- Kecerdasan
- Bakat khusus
- Sifat-sifat pribadi dan sebagainya
Faktor yang ada di luar diri anak antara lain :
- Keluarga
- Sekolah
- Masyarakat sekitar dan sebagainya
Dari semua faktor tersebut bisa mengarahkan kepada perbuatan yang positif membangun (konstruktif). Sehingga disini bimbingan mempunyai fungsi pencegahan atau preventif terhadap dorongan-dorongan yang mengarah kepada perbuatan yang negatif. Serta, mendorong dan mengarahkan pada perbuatan yang destruktif ke arah konstruktif, dengan menyalurkan bakat, sifat, kegiatan-kegiatan olah raga, kesenian dan sebagainya.
c.       Pengembangan
Pengembangan ini berupa pemeliharaan dan peningkatan. Sebab fungsi pencegahan sangat erat hubungannya dengan pengembangan. Baik dorongan konstruktif maupun dorongan destruktif yang mudah tersalurkan perlu mendapatkan peningkatan. Pengembangan ini berupa pemeliharaan dan peningkatan, pengembangan di sini bukan hanya pengembangan hobby namun juga pengembangan semua aspek di dalam diri anak.
d.      Penyesuaian diri
Dalam perkembangan baik di rumah, di sekolah dan di masyarakat, anak selalu menghadapi hal baru. Di dalam hal ini merupakan fungsi korektif, sehingga baik orang tua dan guru dapat membantu anak untuk mempercepat penyesuaian diri.
Sebab dengan kelambatan dan ketidakadaan penyesuaian diri bisa menghambat atau membawa kesulitan belajar.

2.2. Kedudukan Orang Tua dalam Pendidikan
2.2.1. Pengertian Orang Tua
Orang tua adalah bapak dan ibu yang telah menjadi sebab lahir anak-anaknya di dunia. Merupakan hubungan darah langsung atau keturunan langsung dari orang tua.
Sudah menjadi fitrah dan naluri setiap orang untuk memiliki anak, menurunkan keturunan seperti buah hatinya, tempat mencurahkan kasih sayangnya, belahan jiwanya, penerus keturunannya dan masih banyak lainnya.
Dalam Al-Qur'an surat Al-Imran ayat 14 Allah berfirman :
زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين ....(ال عمران 14)
Artinya :  "Jadikanlah indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanita, anak-anak."(Depag RI, 1977)

2.2.2  Peran Orang Tua Terhadap Pendidikan
Secara kodrati keluarga berperan sebagai pendidik putra-putirnya di rumah. Orang tua secara tidak langsung dan tidak direncakan telah menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orang tuanya baik yang secara sengaja maupun tidak disengaja yang akan tertanam pada anak yang kelak akan merupakan corak kepribadian. Di sini orang tua harus mengerti fungsi sebagai orang tua. Adapun fungsi orang tua menurut Drs. H.M. Arifin M.ED adalah :
-         Orang tua sebagai fungsi pendidik keluarga
-         Orang tua sebagai fungsi pemelihara serta pelindung (H.M. Arifin, 1976 : 72)
Sedang agama Islam memandang pendidikan orang tua terhadap anaknya sangat diwajibkan, seorang anak jadi Yahudi, Nasrani, Majusi, ini semua tergantung pada orang tuannya sebagaimana sabda Rosulullah SAW:
عن ابى هريرة رضىالله عنه قال قال رسول الله ص م ما من مولود الا يولد علىالفطرة فأبواه يهودانه وبنصرانه اوعمجسانه (رواه البخارى)
"Dari Abu Hurairah RA berkata, bersabda Nabi SAW : Tiap-tiap manusia itu dilahirkan atas dasar fithrah, maka kedua orang tua (ibu/bapak) lah yang menjadikan anak tersebut menjadi yahudi, Nasrani maupun Majusi". H.R. Bukhari. (Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari, Shohih Bukhari, Jilid I, hal 235)
Dari sabda tersebut di atas dapat diambil pengertian bahwa manusia sejak dilahirkan telah membawa fithrah beragam Tauhid, namun fithrah tersebut masih berwujud potensi sedangkan potensi itu dapat berkembang dengan suburnya dan dapat pula rusak tergantung lingkungannya. Oleh karena lingkungan yang terdekat dengan anak adalah orang tua, maka orang tua kedudukannya sangat strategis dalam membentuk kepribadian anak dikemudian hari. Lebih-lebih bila anak masih kecil, orang tua harus dapat memberikan suri tauladan secara kongkrit dalam kehidupan sehari-hari, sebab anak belum mengerti tetapi masih dalam taraf mencontoh, sikap anak dikemudian hari banyak dipengaruhi dari kepribadian yang dihasilkan dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan pada kebiasaan di rumah yang dilihat, didengar di kala masih kecil. Dengan demikian penanaman contoh perilaku agama penting dilakukan sedini mungkin.
Penanaman agama oleh orang tua adalah merupakan keharusan, namun jika penanaman tersebut tidak mungkin dilakukan oleh orang tua di rumah disebabkan orang tua tersebut tidak mengerti agama, bahkan kepercayaannya terhadap Tuhan mungkin belum menjadi bagain dari kepribadiannya, maka anak dapat diserahkan kepada tokoh masyarakat yang menguasai seluk beluk agama, kemudian nanti dilanjutkan di sekolah sebagai penanggungjawab pendidikan.
Dengan demikian dapat penulis simpulkan bahwa peranan keluarga dalam pendidikan putra/putrinya di rumah adalah sangat besar dalam penanaman ajaran agama, sehingga ketauladanan orang tua sangat diperlukan unsur pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian.   

2.3.  Pengertian Motivasi Belajar
Untuk dapat memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang disebut dengan motivasi belajar maka berikut ini penulis kemukakan beberapa definisi atau batasan dari beberapa ahli :
Samidjo Mardiani memberikan definisi motivasi belajar adalah berbagai usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam perkembangannya yang meliputi maksud, tekad, hasrat, kemauan, kehendak, cita-cita, dan sebagainya untuk mencapai tujuan. (Samidjo Mardiani, 1989 : 10)
Menurut Afifudin bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri yang mampu menimbulkan kesemangatan atau kegairahan belajar.
Sedangkan Amir Daien Indrakusuma dalam bukunya "Pengantar Ilmu Pendidikan" mengatakan bahwa motivasi belajar adalah kekuatan-kekuatan atau tenaga-tenaga yang dapat memberikan dorongan kepada kegiatan belajar murid.
Dari definisi-definisi para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah adanya dorongan atau hasrat, kemauan untuk melaksanakan kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuan.
Dalam ajaran agama Islam, belajar (menurut ilmunya) tidak ada batasnya. Hal ini ditegaskan oleh Sabda Nabi Muhammad SAW  yang berbunyi :
عن ابى عبد البرعن أنس عن عائشة رضي الله عنها. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الطلبو العلم ولوبالصين فان طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة (رواه ابن عدى والبيهقى)
Artinya :     Dari Ibnu Abdul Bar dari Anas dari Aisyah RA. Rasulullah SAW bersabda : Carilah ilmu meskipun di negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu itu kewajiban setiap orang Islam laki-laki dan perempuan. (HR. Ibnu 'Ady dan Baihaqi)
Dengan uraian di atas, maka motivasi belajar erat kaitannya dengan tujuan yang akan dicapai, apabila tujuan telah dicapai maka keadaan yang menyebabkan timbulnya belajar akan mereda, sehingga adanya tujuan-tujuan yang baru akan dicapai lagi. Timbulnya kegiatan belajar biasanya di dorong oleh sesuatu atau keinginan, hasrat, kemauan, atau kebutuhan. Jadi tampaklah betapa pentingnya motivasi belajar di dalam diri setiap murid.


BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Peran Bimbingan Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Siswa
Pada kebanyakan orang tua yang memegang peranan penting dalam proses pemberian bimbingan pada anak-anak. Sebab sejak anak dilahirkan, anak berada di samping orang tuanya. Baik melalui makan, minum dan sebagainya, sehingga anak lebih cinta pada orang tuanya, dan yang dimaksud :
1.      Ibu
Betapa mulianya tugas seorang ibu sebagai seorang pendidik dan pembimbing serta mengatur rumah tangga, baik buruk pendidikan anak juga tergantung pada baik buruknya bimbingan itu, sebab peranan bimbingan ibu sangat besar terhadap motivasi belajar disepanjang ilmunya.
2.      Ayah
Seorang ayahpun disini sangat berperan dalam membimbing anak-anak. Jadi kegiatan seorang ayah terhadap pekerjaan sehari-hari yang sangat berlebihan sangat berpengaruh terhadap anak-anak, lebih-lebih pada masa sekolah khususnya terhadap motivasi belajarnya.
Meskipun demikian tidak sedikit kejadian tentang kesalahpahaman tindakan yang diakibatkan oleh tindakan seorang ayah. Karena banyak kesibukan kerja dalam rangka mencari nafkah sehingga terjadi jarangnya seorang ayah dalam membimbing anaknya. Dan lebih celaka lagi seorang ayah yang tidak mau berurusan dengan masalah bimbingan kepada anaknya. Semua bimbingan kepada anak dibebankan kepada istrinya.
Sehubungan dengan permasalahan di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan orang tua merupakan satu pengaruh yang sangat besar dan baik atas timbulnya motivasi belajar.
3.      Harapan dan tuntutan orang tua
Adapula kasih sayang orang tua yang salah, yaitu mengharap kesenangan dan kepuasan bagi dirinya dari anak-anaknya. Banyak dari orang tua yang mengharapkan anak-anaknya menjadi anak yang berhasil, terutama orang tua yang berkuasa dan ternama di masyarakat yang sebenarnya hanya untuk kebanggan mereka saja. Akibatnya tidak jarang orang tua yang memaksa memilih jabatan kepada anaknya yang sesuai dengan kehendaknya. Sehingga anak yang gagal mencapai cita-cita mengakibatkan kekecewaan pula orang tuanya. Dalam hal ini tidak jarang tua yang mempermasalahkan anak-anaknya pula. Sedangkan kalau kita teliti yang sebenarnya kesalahan itu terletak pada orang tua itu sendiri, yang mana memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Memang wajib pula kita sebagai orang tua menuntut anak-anaknya sejak kecil untuk belajar bertanggung jawab atas beberapa hal tertentu. Seperti teratur melakukan pekerjaan rumah dan sebagainya. Dan juga pengaruh bimbingan orang tua akan menimbulkan segi positif terhadap anak, seperti:
·        Anak dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri
·        Anak menghormati orang tua dan menghargainya
·        Anak menjadi rajin di rumah
·        Anak menghormati waktu belajar sebaik mungkin
·        Anak mau melaksanakan perintah orang tua dan menjauhi larangannya
4.      Hubungan orang tua dengan sekolah atau guru
Dalam hubungan pihak sekolah atau guru dengan orang tua anak yaitu :
·        Menghormati ibu dan bapak guru dengan kesadaran dan keikhlasan bahwa ibu dan bapak guru berjasa dalam membentuk watak atau kepribadian dan menambah bekal ilmu murid-muridnya
·        Selalu mematuhi tata tertib sekolah
·        Selalu menjaga nama baik sekolah
·        Mengadakan kerjasama dengan pihak sekolah
Jadi orang tua sebagai pendidik tidak saja berkomunikasi dengan anak saja, akan tetapi juga harus berkomunikasi dengan lembaga pendidikan dimana anaknya melakukan kegiatan belajar. Kerjasama antara orang tua dan guru sangat diperlukan untuk menciptakan situasi belajar yang benar-benar bermutu.
Pihak sekolah (guru) dapat membantu orang tua dalam memperoleh bantuan dan pemahaman kepada anak-anaknya, sebaliknya orang tua membantu pihak sekolah dengan memberikan informasi yang tepat mengenai segala sesuatu yang menyangkut anak.

3.2.  Peranan Bimbingan Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa
Guru pasti ingin melihat semua murid-muridnya dapat belajar dengan baik, namun kenyataan yang terjadi tidak semua murid mau belajar dengan sungguh-sungguh, sehingga menunjukkan salah satu gejala kurangnya motivasi belajar.
Adapun berdasarkan uraian di atas, maka seharusnya guru melibatkan diri dalam soal bimbingan. Sebab guru berkesempatan untuk melakukan bimbingan kepada setiap siswa  di sekolah, dengan pengamatannya itu guru dapat mengerti bahwa anak itu sedang cemas, tidak bahagia dan sebagainya.
- Guru sebagai pembimbing
Guru hendaknya mengadakan pendekatan yang bersifat pribadi (personal approach) kepada siswa dalam setiap proses belajar mengajar berlangsung. Dengan pendekatan semacam ini guru akan secara langsung mengenal dan memahami murid-muridnya secara lebih mendalam, sehingga dapat membantu dalam keseluruhan proses belajarnya.
Guru sebagai seorang pembimbing dalam belajar mengajar diharapkan mampu untuk :
1.      Memberikan berbagai informasi dalam proses belajar mengajar
2.      Membantu siswa di dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapi
3.      Mengevaluasi semua kegiatan yang mereka lakukan
4.      Memberikan kesempatan pada setiap murid untuk dapat belajar sesuai dengan karakteristik pribadi.
5.      Memahami setiap siswa baik individu maupun secara kelompok.
Untuk membantu siswa agar dapat menyesuaikan diri dengan baik dalam situasi belajar, sehingga setiap siswa dapat belajar secara efisien sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan dapat memberikan motivasi belajar guna mencapai perkembangan yang optimal. Adapun cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam membimbing siswa adalah sebagai berikut :
  1. Mencarikan cara-cara belajar yang efektif dan efisien
  2. Menunjukkan cara-cara mempelajari sesuatu dengan menggunakan buku pelajaran
  3. Memberikan informasi bagaimana memanfaatkan perpustakaan
  4. Membuat tugas-tugas guna mempersiapkan ulangan dan ujian
  5. Memberikan petunjuk penggunaan atau pemanfaatan waktu luang atau belajar di rumah
Guru untuk dapat memberikan bimbingan kepada siswa secara optimal, maka guru tersebut haru dapat :
1.      Berhubungan dan memelihara hubungan dengan siswa secara terus menerus
2.      Memahami karakteristik siswa dan membantunya agar kebutuhan sosial terpenuhi
3.      Membantu siswa untuk mencapai keseimbangan psikis dan fisiknya
4.      Memberikan dorongan kepada siwa untuk melakukan kegiatan belajar yang mengarah kepada tingkah laku yang baik dan selaras dengan norma-norma kehidupan yang berlaku.
5.      Membantu siswa untuk menanamkan kepercayaan pada diri sendiri
6.      Membantu mengatasi dan menghilangkan rasa ragu-ragu serta pemecahan masalah yang dihadapinya
7.      Membantu dan memahami secara mendalam tujuan pelajaran yang dihadapinya
8.      Membantu dan mengarahkan pada siswa dalam menggunakan waktu yang ada dalam kegiatan belajar secara tertib, teratur dan efektif.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Berdasarkan deskripsi tentang peran bimbingan orang tua dan guru terhadap motivasi belajar siswa di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Peran bimbingan orang tua sangat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar anak, yakni berpengaruh mempunyai prestasi belajar yang baik.
Sebaliknya bagi siswa yang kurang mendapat bimbingan orang tua akan  kurang pula motivasi belajarnya Dari kesimpulan ini bukan berarti bahwa siswa yang kurang mendapat bimbingan orang tuanya tidak ada motivasi belajar dan tidak mempunyai prestasi yang baik, akan tetapi ada dan banyak faktor lain ikut menentukan dalam keberhasilan belajar, seperti :  kecerdasan, kemauan,  ingatan dan sebagainya.
Dengan bimbingan orang tua yang lebih baik, maka akan berarti motivasi belajar anak akan lebih besar dan mungkin sekali terjadi prestasi yang lebih baik, keberhasilan tujuan belajarnya akan dapat tercapai.
2. Peran bimbingan guru terhadap motivasi belajar siswa yang besar dan akan mendapat prestasi belajar yang baik. Namun tidak berarti bahwa semua siswa yang mendapat bimbingan guru motivasi belajarnya lebih dan prestasinya lebih baik.
Dalam hal ini akan ditunjang dan dipengaruhi oleh berbagai faktor dari dalam maupun faktor dari luar diri anak itu sendiri. Dengan bimbingan guru yang lebih efektif dan secara terus-menerus berkelajutan akan mungkin sekali menjamin motivasi balajar yang lebih baik dan akan prestasi yang lebih baik.

4.2. Saran
Dengan berpijak pada pada kesimpulan di atas, maka dengan ini penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut :
  1. Bahwa bimbingan orang tua dan bimbingan guru harus selaras secara bersama serta berjalan secara berkelanjutan. Maka dalam hal ini, bimbingan harus diperhatikan baik oleh orang tua maupun guru, sehingga pada diri anak selalu timbul motivasi belajar yang akan berpengaruh terhadap prestasi belajar.
  2. Siswa hendaknya selalu meningkatkan motivasi belajar guna mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik. Sebab untuk belajar tidak perlu menanti bimbingan, baik dari orang tua maupun dari guru. Karena kegunaan belajar akhirnya akan bermanfaat bagi dirinnya sendiri, agama, bangsa serta negara.


DAFTAR RUJUKAN


Afifudin. 1986. Psikologi Pendidikan Anak Usia Sekolah Dasar. Solo : Harapan Masa

Departemen Agama RI. 1992. Al Qur'an dan Terjemahnya. Semarang : As-Syifa'

Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-Sayauthi. 911. Al-Jami'ash-Shoghir, Syirkah An Nur Asia.

Kartini, Kartono. 1985. Bimbingan dan Dasar-dasar Pelaksanaannya. Bandung : Rajawali

Mardiani, Samijo. 1987. Bimbingan Belajar. Bandung : Armico

Poerwodarminto, WJS., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka

Rochman Notowidjoyo. 1979. Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : Depdikbud.




0 komentar:

Poskan Komentar